Masa Depan Quad di Ujung Tanduk Akibat Friksi AS-India | Jakarta – Pertemuan para menteri luar negeri anggota Quadrilateral Security Dialogue (Quad) di New Delhi akhir Mei ini menjadi momen krusial yang dipenuhi ketegangan terselubung. Di atas kertas, delegasi dari Amerika Serikat, India, Jepang, dan Australia sepakat untuk memperluas infrastruktur pertahanan di kawasan Indo-Pasifik. Di balik meja diplomasi, isu krusial mengenai eksistensi aliansi ini justru menjadi ganjalan besar akibat memburuknya hubungan bilateral antara Washington dan New Delhi.

Upaya membendung agresivitas politik dan militer Cina di kawasan Indo-Pasifik merupakan fondasi utama terbentuknya Quad. Namun, sejak pergantian kepemimpinan di Gedung Putih, kekompakan kelompok ini mulai diuji. Rencana pertemuan tingkat tinggi yang seharusnya digelar di India pada paruh kedua tahun 2025 lalu kandas tanpa kejelasan. Penundaan ini tidak terlepas dari kebijakan ekonomi dan politik luar negeri Presiden AS Donald Trump yang dinilai menyudutkan India.
Tarif Dagang dan Gesekan Diplomasi Trump-Modi
Kebijakan Trump yang memberlakukan tarif tambahan terhadap barang impor asal India memicu keretakan hubungan dengan Perdana Menteri Narendra Modi. Situasi kian keruh setelah Trump secara sepihak mengklaim telah mengintervensi konflik perbatasan antara India dan Pakistan, ditambah kritik tajam Washington atas keputusan New Delhi yang tetap membeli alat utama sistem persenjataan (alutsista) dari Rusia.
Misi Berat Marco Rubio di New Delhi
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang memimpin delegasi ke New Delhi kini memikul beban diplomasi yang berat. Rubio harus meyakinkan India bahwa Washington masih menganggap mereka sebagai mitra strategis utama, di saat fokus perhatian Trump saat ini lebih tersedot pada gejolak di Timur Tengah.
Kehadiran India dalam Quad dipandang sangat vital oleh anggota lainnya, seperti Jepang dan Australia. Tanpa kekuatan geografis dan militer India, jangkauan serta pengaruh kelompok ini untuk mengimbangi dominasi kekuatan Beijing akan melemah secara signifikan.
Bayang-Bayang Dominasi Beijing di Indo-Pasifik
Pengamat hubungan internasional memperingatkan adanya risiko degradasi politik jika komitmen para pemimpin negara anggota terus menurun. Apabila agenda pertemuan tingkat tinggi di Australia pada akhir tahun 2026 nanti kembali batal dihadiri oleh presiden AS, eksistensi Quad berada dalam ancaman serius. Melemahnya aliansi ini secara otomatis akan menguntungkan posisi Beijing, yang sejak awal memandang sinis Quad sebagai upaya blok Barat untuk mengepung wilayah mereka.
Ketidakpastian ini juga memicu kekhawatiran bagi negara-negara kecil di kawasan Indo-Pasifik. Melemahnya stabilitas keamanan regional memaksa negara-negara tersebut berada di posisi sulit dalam menjaga keseimbangan tanpa harus terjebak untuk memihak salah satu kekuatan besar.
Fleksibilitas Struktur dan Risiko Stagnasi Strategis
Kendati demikian, sejumlah analis menilai format informal Quad yang tidak kaku seperti NATO justru memberikan fleksibilitas tinggi untuk bertahan dari badai politik internal. Aliansi ini tercatat sempat mengalami masa vakum serupa di masa lalu, namun tetap mampu bangkit kembali karena adanya kesamaan kepentingan yang mendasar terkait keamanan maritim.
Tantangan terbesar yang dihadapi saat ini bukanlah pembubaran secara mendadak, melainkan stagnasi strategis secara perlahan akibat hilangnya momentum politik dan jarangnya pertemuan tingkat tinggi. Jika komitmen Washington terus memudar, opsi memperluas keanggotaan dengan melibatkan negara seperti Korea Selatan, Selandia Baru, atau Vietnam dalam format “Quad-plus” bisa menjadi alternatif untuk menjaga relevansi kelompok ini.
Keberhasilan misi Rubio di India minggu ini akan menjadi indikator awal apakah Quad mampu bertahan melewati perbedaan persepsi geopolitik di antara para anggotanya.