AS Siapkan Rencana Kontinjensi Militer Terhadap Iran | WASHINGTON D.C. – Pentagon dilaporkan tengah berada dalam posisi siaga tinggi dengan menyusun draf opsi serangan militer baru yang menargetkan Republik Islam Iran. Langkah ini diambil sebagai respons antisipatif pemerintah Amerika Serikat apabila proses negosiasi gencatan senjata yang tengah berjalan berakhir buntu tanpa kesepakatan konkret. Ketegangan ini menandai babak baru dalam dinamika geopolitik Timur Tengah yang kian memanas di awal tahun 2026 ini.
Sejumlah pejabat pertahanan senior yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa rencana operasi ini tidak lagi hanya bersifat defensif. AS kini mulai memetakan serangan pre-emptif yang dirancang untuk melumpuhkan kemampuan Iran dalam memproyeksikan kekuatan militernya di wilayah perairan strategis, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi jalur nadi energi dunia.
Menghancurkan Arsitektur Perang Asimetris
Dalam kajian militer terbaru tersebut, fokus utama Pentagon adalah menetralisir aset-aset perang asimetris milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Selama ini, Teheran mengandalkan armada kapal cepat (fast attack craft) yang lincah dan sulit dideteksi oleh radar konvensional untuk mengintimidasi kapal-kapal tanker internasional.
Selain kapal cepat, unit penebar ranjau laut Iran juga menjadi target prioritas dalam daftar serangan AS. Militer Amerika menyadari bahwa ancaman terbesar di Selat Hormuz bukanlah konfrontasi kapal perang besar, melainkan taktik “tabrak lari” dan penyebaran ranjau bawah air yang dapat menghentikan arus logistik global dalam seketika. Dengan menghancurkan fasilitas penyimpanan ranjau dan dermaga kapal cepat di sepanjang pesisir Iran, AS berharap dapat mengamankan jalur pelayaran internasional dari sabotase.
Pergeseran Strategis: Target Fasilitas Dwiguna
Satu hal yang menjadi sorotan tajam dalam draf opsi serangan ini adalah perluasan cakupan target ke infrastruktur sipil yang memiliki fungsi ganda (dual-use facilities). Jika sebelumnya AS cenderung menghindari target non-militer murni, kini jembatan strategis, pembangkit listrik, dan pusat distribusi energi mulai dipertimbangkan untuk dihancurkan.
Logika di balik strategi ini adalah untuk memutus rantai pasokan dan mobilitas pasukan IRGC. Penghancuran jembatan-jembatan utama di wilayah selatan Iran diprediksi akan mengisolasi unit-unit militer di pesisir dari pusat komando di Teheran. Sementara itu, serangan terhadap jaringan listrik bertujuan untuk melumpuhkan sistem radar, komunikasi digital, dan fasilitas industri pertahanan Iran. Langkah ini dipandang sebagai upaya untuk menciptakan efek kejut yang masif, guna memaksa pemerintahan Iran kembali ke meja perundingan dengan posisi tawar yang jauh lebih lemah.
Operasi “Pemenggalan” Komando: Ahmad Vahidi dalam Bidikan
Mungkin poin paling kontroversial dan berisiko tinggi dalam dokumen rencana tersebut adalah penyebutan nama-nama tokoh militer penting Iran sebagai target potensial. Salah satu nama yang mencuat ke permukaan adalah Ahmad Vahidi, komandan senior yang memiliki pengaruh luas dalam struktur intelijen dan operasi luar negeri Iran.
Penargetan tokoh kunci seperti Vahidi menunjukkan bahwa Washington siap mengulangi strategi “pemenggalan komando” sebagaimana yang pernah dilakukan terhadap Qasem Soleimani. Analis militer berpendapat bahwa kehilangan figur sentral seperti Vahidi dapat menciptakan kekosongan kepemimpinan sementara di tubuh IRGC, yang pada gilirannya akan mengganggu koordinasi kelompok-kelompok proksi Iran di Lebanon, Suriah, dan Yaman. Namun, risiko serangan terhadap personel tingkat tinggi ini sangat besar, karena hampir dipastikan akan memicu gelombang pembalasan yang brutal di seluruh kawasan.
Diplomasi di Ujung Tanduk
Hingga saat ini, Gedung Putih masih menekankan bahwa jalur diplomasi tetap menjadi prioritas utama. Namun, dengan munculnya opsi-opsi serangan udara dan laut yang sangat mendetail ini, Amerika Serikat mengirimkan pesan yang jelas kepada Teheran: kesabaran Washington memiliki batas.
Eskalasi ini menempatkan kawasan Timur Tengah pada situasi yang sangat rentan. Dunia internasional kini menaruh perhatian penuh pada perkembangan di meja perundingan. Jika kesepakatan gagal dicapai, maka skenario operasi militer yang mencakup penghancuran infrastruktur dan penargetan komandan tertinggi Iran ini bisa menjadi kenyataan, yang dipastikan akan mengubah wajah peta konflik global secara drastis.